Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Juli 2013

TTM (Teman Tapi Musuh)

P
anas matahari seolah membakar permukaan bumi menjadikan bumi ini dikelilingi dengan gurun api dimana-mana dan membakar semua yang ada, dari tahun ke tahun suhu bumi semakin meningkat, wajar saja kalau bumi tercintaku ini diselimuti dengan bencana-bencana yang terjadi dimana-mana, perubahan musim yang tidak biasa, kekeringan, banjir, kelaparan, melanda hampir diseluruh belahan dunia, hanya segelintir orang yang peduli kepada kondisi alam ini, tentunya dengan pikiran sok bijakku ini. Cuaca hari ini berhasil membuat tenggorokanku kering, harus kucari dimana tempatku bernaung selama kurang lebih empat tahun ini, kosan! Itu yang kucari saat ini, mataku tertuju kepada satu rumah besar berwarna biru muda, kulihat ada selebaran yang tertempel di pintunya, “terima kos-kosan untuk lelaki, kosong 3 kamar”, langsung kuhubungi nomer yang tertera di pojok kanan bawah “Hallo... Ibu, aku Philip, aku melihat ada kamar kosong yang ditempel dirumah ini...”, akhirnya dari perdebatan panjang antara aku dengan pemilik rumah, kita pun menemukan kesepakatan, akhirnya aku mendapatkan kosan yang akan ku tinggali setahun ini, rumahnya memiliki enam kamar dan yang terisi ada tiga denganku menjadi empat, untungnya kosan ini menyediakan kasur dan lemari baju sehingga aku tidak harus membeli kasur dan lemari baju, so untuk menghemat pengeluaran juga.
***
Malam harinya, aku berniat menyapa teman sekosanku yang sudah lebih dulu tinggal di sini, ku awali dengan kamar paling pojok, Took...toook...tooook...!! masih hening, ku ulang untuk mengetuk pintunya Took...toook...!! terdengar dari dalam kamar seorang membukakan kunci dan membuka pintu, sesosok pria dengan  badan sedikit lebih tinggi dariku berdiri dihadapanku diiringi senyuman yang hangat “Iya... bisa kubantu?” dengan senyum yang melekat erat “Oh ya, gue Philip anak baru di kosan ini...” menjulurkan tangan “Gue Orlando, panggil aja Lando, gue baru semester tiga...” “Oh, gw kira kita seangkatan, kakak kuliah di mana?” “Gue di UCI, jurusan sastra Inggris, jangan paggil kakak, panggil nama aja, kalo lo?” “Gue juga sama, tapi gue jurusan sastra Jepang” kami pun terlibat percakapan yang seru, tak lama aku mendengar suara pintu dibuka, rupanya dari kamar sebelah seseorang dengan kacamata dan bertubuh kekar keluar dari kamar tersebut, kuberanikan untuk menyapanya “Hai... gue Philip” “.....” tak ada balasan darinya, “Lando, gue pinjem novel lo yang kemaren dong” “Oh iya, sebentar...” Lando masuk kedalam kamar untuk mengambil novel yang dibicarakan tadi “Nih..tapi lo kenalan dulu dong sama teman baru kita ini...” “Ga penting kenalan, nanti juga kenal sendiri!” mengambil buku dari tangan Lando seraya lenyap masuk ke dalam kamar. “Jangan diambil hati ya, dia emang gitu, tapi sebenernya dia baik kok...” “namanya siapa?” “Jhon, Jhon Fernando” orang yang dingin, batinku.

Selamat Ulang Tahun, Revan


K
eringat mengguyur seluruh tubuhnya, ia berlari sangat cepat, menerobos semua orang yang menghalanginya, “Pintu terakhir... ya...!” pandangannya tertuju kepada satu pintu yang ada di depannya, namun seseorang bertubuh kekar menubruknya dari samping, Bruuukkk...!!! terjatuh, ia pun kehilangan kesadaran.
***
“Bunda...bunda...”
Sesosok tubuh kecil nan mungil berdiri di sampingnya, “Anter Revan ke kamar mandi dong bun?” “ Ternyata ini hanya mimpi”, batin Renata. Revan adalah anak pertama Renata, usianya baru akan menginjak lima tahun, “Sayang... sini bunda anter”. Renata adalah seorang ibu rumah tangga, ia memiliki suami bernama Evan yang bekerja sebagai Dokter, tahun-tahun yang membahagiakan bagi Renata karena memiliki anak dari suami yang sangat ia cintai.

“Sepuluh, sebelas, DUA BELAS !!, bunda... bunda... dua belas hari lagi Revan ulang tahun, Revan mau dirayain ya bun, ya ?” “Iya sayang, kamu mau hadiah apa ?” sambil menyiapkan sarapan untuknya “Revan mau mobil remote control ya bun?, yang besar...!” Renata tersenyum “Iya..., tapi habisin dulu makananmu?”. Sesosok tubuh kekar berpakaian rapih menghampiri Renata, “Honey, aku berangkat dulu ya?” sambil mencium kedua pipi Renata dan Revan “Kamu gak sarapan dulu ?” tanya Renata “Nanti aja, sibuk banget nih masih banyak pasien yang harus dikontrol” sambil merapihkan dasinya “Ya sudah, hati-hati ya honey?” “Bye...”.
***
Ciiiiiiiittttt
Suara mobil direm, sebuah mobil memasuki pelataran Taman Kanak-kanak  “Sayang nanti bunda jemput lagi ya, bunda mau belanja dulu” mencium pipi Revan “Iya bun, Revan masuk dulu ya, da..dah...” melambaikan tangannya “Yang rajin ya belajarnya”.
mobil merah menyala itu pun melaju dengan kencang, sebuah supermarket menjadi tujuannya.
“Minyak sayur, sudah!, shampo, sudah!, sosis, sudah!...”
“Ibu Renata ya?” sesosok wanita cantik dengan berpakaian seksi berdiri di sampingnya. “Iya, kamu siapa ya?” “Kenalin, namaku Winda, aku suster di tempat suamimu bekerja” “Oh... ada kepentingan apa ya?” dengan raut muka kebingungan “Ah nggak, aku nge-fans banget loh bu, sama pak Evan, dia itu sangat berwibawa, supel dan yang terutama... ganteng!, kalo aku jadi ibu, aku gak bakalan lepasin dia” “Maksud kamu?” dengan nada sedikit kesal “Ya ampun ibu, semua orang di Rumah Sakit Citra Buana juga udah pada tau kali, Pak Evan itu lagi deket sama Vini, suster baru di sana” “Jangan bicara sembarangan ya, kamu! Nggak mungkin suami saya selingkuh!” dengan nada yang meninggi dan raut wajah yang kesal “Aku sih nggak bakalan maksa ibu buat percaya, tapi jangan nyesel aja nantinya, aku cuma ngasih tau aja! Maaf kalau aku ganggu dan buat ibu kesal, permisi...!” wanita itu pun berlalu meninggalkan Renata yang terdiam, memikirkan perkataan Winda yang beranggapan bahwa Evan telah selingkuh. Bingung, kesal, sedih menyelimuti seluruh isi hati Renata.
Malam yang hening membuat semua orang  yang terjaga tergoda untuk terlelap dalam balutan hangat selimut, tapi tidak untuk Renata, ia masih memikirkan apakah benar perkataan wanita di supermarket tadi, ataukah hanya sebuah fitnah yang bisa dalam sekejap menghancurkan rumah tangga mereka. “Aku harus cari tau kebenarannya!” batinnya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...