Tampilkan postingan dengan label Fiksi Mini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi Mini. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Agustus 2013

Gembok


Seorang ibu duduk di depan rumah, menikmati hangatnya sinar sang surya pagi hari sambil meminum secangkir kopi, tak lama ada seorang pria muda menghampirinya. “Ibu, aku sudah menemukan gemboknya” sambil merangkul seorang gadis manis di sampingnya.

Galih Maulana Septian, 02 Agustus 2013

Selasa, 16 Juli 2013

Bintang

Malam kelam. Sunyi. Diisi oleh tarian bintang yang menghiasi langit. Sang bintang terus menari dengan tidak lelahnya tampa pamrih, ia tak peduli dengan siapapun yang melihat, baginya hal ini merupakan sebuah kewajiban yang tak harus di bayarkan oleh apapun, sang awan melihat, ia bertanya. “Mengapa?” ia tersenyum tanpa menjawab dan melanjutkan tariannya.



Galih Maluana Septian, 16 Juli 2013

Senin, 15 Juli 2013

Masak

“Ah, perih mas, saya belum biasa, selanjutnya harus bagaimana?” tanya seorang wanita. “Pelan-pelan saja, tutup matamu biar tidak perih” kata seorang pria. “Tapi nanti mas yang masukinkan?” tanya si wanita melanjutkan. “iya, cepat! Keburu ibu datang!”. Lanjut si pria sambil memegang spatula.

Galih Maulana Septian, 14 Juli 2013


Minggu, 14 Juli 2013

Biji

Biji terjatuh dari pohonnya, kini ia berjalan sendiri, jauh mencari jalannya sendiri, ia sadar kini ia di campakan oleh sang pohon, pohon itu menemukan biji yang menurutnya lebih baik, biji tersebut kini mencoba sendiri, tumbuh sendiri dengan usahanya sendiri untuk menjadi pohon yang bermanfaat dan berusaha tidak melupakan kalau ia pernah tumbuh dari sang pohon walaupun ia telah di campakkan.



Galih Maulana Septian, 14 Juli 2013

Jari

Lima jari berdiri tegak, di tangan itulah ia bersarang, memiliki funsinya masing-masing, namun sang tangan dengan angkuhnya melupakan kegunaan jari-jari itu, tanpa sadar ia memotong jari-jari itu karena merasa ia tidak memerlukan jari-jari itu. Setelah para jari dipotong akhirnya ia sadar, bahwa sang tangan tidak bisa melakukan apapun tanpa jari-jarinya.

Galih Maulana Septian, 14 Juli 2013

Senin, 08 Juli 2013

Air Hujan

Dari langit segerombolan tetesan air turun ke bumi, menyerang semua yang ada di sana, pohon, batu, rumah bahkan manusia pun tak luput dari serangannya. Semua menghindari bukan karena takut, namun mereka lebih khawatir akibat basah yang diakibatkannya. Dari jauh nampaklah rumah mungil dengan jendela tipis, terlihat ada seorang ibu menyaksikan gerombolan air menyerang bumi, sang ibupun ikut membantu gerombolan air dengan tetesan air mata yang jatuh kelantai, ibu itu menangis bukan karena sengaja ikut membantu gerombolan air itu namun sang ibu sedang menangis karena teringat kepada kedua putranya yang dulu sering berani menantang air, dari kepalan tangannya sang ibu memegang selembar foto, ya foto kedua anaknya yang meninggal setahun lalu.


Galih maulana Septian, 08 Juli 2013

Rabu, 03 Juli 2013

Dimensi

Sesuatu terpampang nyata di matanya, ia seolah tidak percaya dengan apa yang di lihatnya, foto ini, foto yang ada di rumahnya kira-kira berusia  tujuh puluh lima tahun yang lalu, bahkan saat itu ia masih belum lahir ke dunia ini, ada di hadapannya, sama persis, tak ada yang berubah, namun kenapa gadis itu bilang ini adalah foto baru yang di ambilnya kemarin sore? Siapakah dia? Wajahnya sama persis seperti Nenek, namun ia terlihat masih sangat muda dan cantik, “ada apa sebenarnya ini? Sebenarnya apa yang terjadi kepadaku?” ia masih bingung dengan ini semua! Teka-teki yang membingungkan tentang hal yang tidak masuk akal antara alam nyata dan alam dibawah sadarnya.


Galih Maulana Septian, 03 Juli 2013

Senin, 01 Juli 2013

Karerina


Langkah kaki kupercepat, semakin cepat dan cepat, kali ini aku berlari mencari dimana letaknya cahaya itu berada, aku berada diterowongan yang tak berujung, mungkin, dalam pikirku. Terlalu panjang, hingga aku tak kuat untuk berlari, terdengar suara tawa lembut kian mendekat pekat, Karerina! Itu suaranya, kupercepat lariku, menghindari suara itu, namun seolah-olah suara itu mengejarku...


 Kian lama kian menjauh dan menghilang, konon dalam terowongan ini bila kita mendengar suara tawa itu, maka kita harus berlari sekencang-kencangnya, entah apa yang akan terjadi bila kita terus mendengat tawa itu, tawa yang renyah namun membahayakan, kupercepat langkahku kembali, oh, ini benar-benar terowongan yang tak berujung! batinnya, ataukah aku sudah masuk kedalam perangkap Karerina?. Kali ini terowong yang mentertawakanku.


Galih Maulana Septian, 06 Desember 2011

Mata Batin si Pria Tampan

Peluh membasahi seluruh tubuhku, sore ini sangat indah, handfree dan mp3 player menemani lari soreku. Aku duduk di kursi taman dekat pohon, meminum seteguk air kemasan dalam botol, kulihat di depanku ada seorang pria tampan sedang duduk sendiri, ia tersenyum padaku, aku tersipu malu dibuatnya, kulanjutkan lari soreku dan meninggalkan pria itu sendiri. Sore ini aku kembali lari dan beristirahat di tempat biasa serta kembali melihat pria tampan itu di tempat yang sama persis seperti kemarin. Ia memakai kacamata hitam dan berkemeja putih, aku tersenyum kepadanya namun kali ini ia tak membalas senyumanku, tak lama ada seorang gadis menghampirinya, aku pikir gadis itu adalah kekasihnya, ternyata gadis itu datang untuk menjemputnya, kulihat gadis itu memapah si pria tampan itu. Ternyata selama ini pria itu adalah pria yang tuna netra, jadi selama ini ia bukan tersenyum kepadaku, tetapi memang ia menikmati indahnya bumi ini walaupun hanya dengan penglihatan batinnya.


Galih Maulana Septian, 01 Juli 2013

Kamis, 27 Juni 2013

Pesan Singkat

Jempol tangan sedang sibuk mengetik sebuah pesan singkat, sesuatu yang benar-benar singkat namun menurutnya pesan itu sangat berarti. Tak lama pesan itu dikirimkannya, pesan tersebut melesat dengan sangat cepatnya, dari sinyal yang kuat, dan dari ribuan pesan yang dikirimkan oleh setiap orang tidak ada yang tertukar, tepat kearah nomor itu ditujukan, tidak saling bertabrakan satu sama lainnya. Sesaat kemudian terdengar bunyi handpone dari seorang gadis, ia mendapati pesan singkat tersebut, disana bertuliskan, “maukah kau menjadi pacarku?” sang gadis tersenyum simpul. Ia sibuk mengetik pesan singkat pula, dan mengirimkannya kepada pria yang ada di hadapannya TRING TRING TRING, suara handphone berbunyi, dan dibukanya sms itu “ya, aku mau jadi pacarmu” si pria tersenyum kegirangan dan menatap si gadis. Si gadispun ikut tersenyum, merekapun tertawa bersama diiringi gemercik hujan dan secangkir kopi hangat di kafe yang sepi itu.


Galih Maulana Septian, 27 Juni 2013

Confession

Helai demi helai kain terjatuh kelantai, sesosok pria bertubuh kurus tinggi memandangi tubuhnya di cermin, lama, tak ada reaksi dalam dirinya. Resah, bimbang, gundah dan nafsu menyatu, memberontak diseluruh penjuru otak, membuat sang pemilik tubuh ini tak bisa lagi menjernihkan otaknya menjadi semakin buram, temaram. Pikiranya hanya tertuju kepada selembar foto, foto orang yang ia kagumi namun lebih dari sekedar kagum, ia ingin memilikinya, memeluknya, menyentuh wajahnya dan mengecup bibirnya yang lembut.
“Aaarrrggghhh...!!!”
nafsunya semakin membuat akalnya tidak digunakan lagi, ia sadar ini salah, namun tak kuasa menahan gemuruh nafsu dalam jiwanya.


Sekali lagi, ia menatapi tubuhnya di cermin, matanya sedikit berkaca, senyum, dengan tekad yang kuat, ia berkata... “Aku Gay!!”.


Galih Maulana Septian, 03 Februari 2012

Malam Pertama


Bau menyengat menyelimuti seluruh sudut ruangan ini, anggrek, melati, ataukah kamboja? tapi sangat busuk!, kubukakan mata, gelap, sangat, tak ada cahaya sedikit pun... di mana ini? Tempat apa ini? Aku tak bisa bergerak, sangat sempit, aku tak bisa mengingat kejadian ketika aku bisa berada di sini, yang kuingat kala itu, ketika aku sedang mengendarai mobilku bersama seorang wanita, bukan, dia bukan istriku, melainkan wanita yang kupungut di pinggir jalan, wanita itu sangat sibuk menurun naikkan kepalanya, sedangkan aku hanya menyetir dan berniat mencari sebuah penginapan. Akan tetapi sebelum sampai tujuan dari kaca spion mobil, aku melihat sebuah mobil truk besar dan aku tak ingat lagi kejadian selanjutnya.


Galih Maulana Septian, 08 Desember 2011

Kamis, 08 Desember 2011

Terima kasih, teman


Seorang anak bermain dengan badai, menungganginya dan berputar dengan senangnya, dari jauh kulihat anak itu, penuh luka! namun ia tetap tersenyum, riang gembira, seolah-olah sedang bermain bersama teman-teman sebayanya. Teringat dua hari yang lalu aku melihat seorang anak yang mirip sekali dengannya, senyumnya sama persis, menikmati batu yang dilempari kepadanya oleh teman-temannya sendiri, entah karena apa mereka tidak mau bermain dengannya, memang yang kulihat tubuhnya penuh borok dan nanah. Kulihat sorot matanya seolah berterima kasih karena sudah mau menghadiahi batu yang menjadi luka, sudah mau berkotor-kotoran mengambil batu hanya untuk dirinya walau sakit rasanya. Dalam akhir ucapannya, “Terima kasih, terima kasih, terima kasih... teman”.


Galih Maulana Septian, 06 Desember 2011
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...