Tampilkan postingan dengan label Fiksi Mini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi Mini. Tampilkan semua postingan
Jumat, 02 Agustus 2013
Diketik Oleh si....
galihmaulanas
jam..........
04.15
Label:
Dewasa,
Fiksi Mini,
Remaja,
Standar
0
Curcolll
Seorang
ibu duduk di depan rumah, menikmati hangatnya sinar sang surya pagi hari sambil
meminum secangkir kopi, tak lama ada seorang pria muda menghampirinya. “Ibu,
aku sudah menemukan gemboknya” sambil merangkul seorang gadis manis di sampingnya.
Galih
Maulana Septian, 02 Agustus 2013
Selasa, 16 Juli 2013
Diketik Oleh si....
galihmaulanas
jam..........
21.57
Label:
Anak-anak,
Dewasa,
Fiksi Mini,
Remaja,
Standar
0
Curcolll
Malam kelam. Sunyi. Diisi oleh tarian bintang yang menghiasi langit. Sang bintang terus menari dengan tidak lelahnya tampa pamrih, ia tak peduli dengan siapapun yang melihat, baginya hal ini merupakan sebuah kewajiban yang tak harus di bayarkan oleh apapun, sang awan melihat, ia bertanya. “Mengapa?” ia tersenyum tanpa menjawab dan melanjutkan tariannya.
Galih Maluana
Septian, 16 Juli 2013
Senin, 15 Juli 2013
“Ah, perih mas, saya
belum biasa, selanjutnya harus bagaimana?” tanya seorang wanita. “Pelan-pelan
saja, tutup matamu biar tidak perih” kata seorang pria. “Tapi nanti mas yang
masukinkan?” tanya si wanita melanjutkan. “iya, cepat! Keburu ibu datang!”. Lanjut
si pria sambil memegang spatula.
Galih Maulana
Septian, 14 Juli 2013
“Ah, perih mas, saya
belum biasa, selanjutnya harus bagaimana?” tanya seorang wanita. “Pelan-pelan
saja, tutup matamu biar tidak perih” kata seorang pria. “Tapi nanti mas yang
masukinkan?” tanya si wanita melanjutkan. “iya, cepat! Keburu ibu datang!”. Lanjut
si pria sambil memegang spatula.
Galih Maulana
Septian, 14 Juli 2013
Minggu, 14 Juli 2013
Diketik Oleh si....
galihmaulanas
jam..........
20.36
Label:
Anak-anak,
Dewasa,
Fiksi Mini,
Remaja,
Standar
0
Curcolll
Biji terjatuh dari pohonnya, kini ia berjalan sendiri, jauh mencari jalannya sendiri, ia sadar kini ia di campakan oleh sang pohon, pohon itu menemukan biji yang menurutnya lebih baik, biji tersebut kini mencoba sendiri, tumbuh sendiri dengan usahanya sendiri untuk menjadi pohon yang bermanfaat dan berusaha tidak melupakan kalau ia pernah tumbuh dari sang pohon walaupun ia telah di campakkan.
Galih Maulana
Septian, 14 Juli 2013
Diketik Oleh si....
galihmaulanas
jam..........
20.24
Label:
Anak-anak,
Dewasa,
Fiksi Mini,
Remaja,
Standar
0
Curcolll
Lima jari berdiri
tegak, di tangan itulah ia bersarang, memiliki funsinya masing-masing, namun
sang tangan dengan angkuhnya melupakan kegunaan jari-jari itu, tanpa sadar ia
memotong jari-jari itu karena merasa ia tidak memerlukan jari-jari itu. Setelah
para jari dipotong akhirnya ia sadar, bahwa sang tangan tidak bisa melakukan
apapun tanpa jari-jarinya.
Galih Maulana
Septian, 14 Juli 2013
Senin, 08 Juli 2013
Diketik Oleh si....
galihmaulanas
jam..........
05.31
Label:
Anak-anak,
Dewasa,
Fiksi Mini,
Remaja,
Standar
0
Curcolll
Dari langit segerombolan tetesan air turun ke bumi, menyerang
semua yang ada di sana, pohon, batu, rumah bahkan manusia pun tak luput dari
serangannya. Semua menghindari bukan karena takut, namun mereka lebih khawatir
akibat basah yang diakibatkannya. Dari jauh nampaklah rumah mungil dengan
jendela tipis, terlihat ada seorang ibu menyaksikan gerombolan air menyerang
bumi, sang ibupun ikut membantu gerombolan air dengan tetesan air mata yang
jatuh kelantai, ibu itu menangis bukan karena sengaja ikut membantu gerombolan
air itu namun sang ibu sedang menangis karena teringat kepada kedua putranya
yang dulu sering berani menantang air, dari kepalan tangannya sang ibu memegang
selembar foto, ya foto kedua anaknya yang meninggal setahun lalu.
Galih maulana
Septian, 08 Juli 2013
Rabu, 03 Juli 2013
Diketik Oleh si....
galihmaulanas
jam..........
01.41
Label:
Dewasa,
Fiksi Mini,
Remaja,
Standar
0
Curcolll
Sesuatu terpampang
nyata di matanya, ia seolah tidak percaya dengan apa yang di lihatnya, foto
ini, foto yang ada di rumahnya kira-kira berusia tujuh puluh lima tahun yang lalu, bahkan saat
itu ia masih belum lahir ke dunia ini, ada di hadapannya, sama persis, tak ada
yang berubah, namun kenapa gadis itu bilang ini adalah foto baru yang di
ambilnya kemarin sore? Siapakah dia? Wajahnya sama persis seperti Nenek, namun
ia terlihat masih sangat muda dan cantik, “ada apa sebenarnya ini? Sebenarnya apa
yang terjadi kepadaku?” ia masih bingung dengan ini semua! Teka-teki yang
membingungkan tentang hal yang tidak masuk akal antara alam nyata dan alam
dibawah sadarnya.
Galih Maulana
Septian, 03 Juli 2013
Senin, 01 Juli 2013
Diketik Oleh si....
galihmaulanas
jam..........
16.00
Label:
Anak-anak,
Dewasa,
Fiksi Mini,
Remaja,
Standar
0
Curcolll
Langkah kaki kupercepat, semakin cepat dan cepat, kali ini aku berlari mencari dimana letaknya cahaya itu berada, aku berada diterowongan yang tak berujung, mungkin, dalam pikirku. Terlalu panjang, hingga aku tak kuat untuk berlari, terdengar suara tawa lembut kian mendekat pekat, Karerina! Itu suaranya, kupercepat lariku, menghindari suara itu, namun seolah-olah suara itu mengejarku...
Kian lama kian menjauh dan menghilang, konon dalam terowongan ini bila kita mendengar suara tawa itu, maka kita harus berlari sekencang-kencangnya, entah apa yang akan terjadi bila kita terus mendengat tawa itu, tawa yang renyah namun membahayakan, kupercepat langkahku kembali, oh, ini benar-benar terowongan yang tak berujung! batinnya, ataukah aku sudah masuk kedalam perangkap Karerina?. Kali ini terowong yang mentertawakanku.
Galih Maulana
Septian, 06 Desember 2011
Diketik Oleh si....
galihmaulanas
jam..........
15.03
Label:
Dewasa,
Fiksi Mini,
Remaja,
Standar
0
Curcolll
Peluh membasahi seluruh
tubuhku, sore ini sangat indah, handfree dan mp3 player menemani lari soreku. Aku
duduk di kursi taman dekat pohon, meminum seteguk air kemasan dalam botol,
kulihat di depanku ada seorang pria tampan sedang duduk sendiri, ia tersenyum
padaku, aku tersipu malu dibuatnya, kulanjutkan lari soreku dan meninggalkan
pria itu sendiri. Sore ini aku kembali lari dan beristirahat di tempat biasa serta kembali melihat pria tampan itu di tempat yang sama persis seperti kemarin.
Ia memakai kacamata hitam dan berkemeja putih, aku tersenyum kepadanya namun
kali ini ia tak membalas senyumanku, tak lama ada seorang gadis menghampirinya,
aku pikir gadis itu adalah kekasihnya, ternyata gadis itu datang untuk
menjemputnya, kulihat gadis itu memapah si pria tampan itu. Ternyata selama ini
pria itu adalah pria yang tuna netra, jadi selama ini ia bukan tersenyum
kepadaku, tetapi memang ia menikmati indahnya bumi ini walaupun hanya dengan
penglihatan batinnya.
Galih Maulana
Septian, 01 Juli 2013
Kamis, 27 Juni 2013
Diketik Oleh si....
galihmaulanas
jam..........
19.58
Label:
Dewasa,
Fiksi Mini,
Remaja,
Standar
0
Curcolll
Jempol tangan sedang
sibuk mengetik sebuah pesan singkat, sesuatu yang benar-benar singkat namun
menurutnya pesan itu sangat berarti. Tak lama pesan itu dikirimkannya, pesan
tersebut melesat dengan sangat cepatnya, dari sinyal yang kuat, dan dari ribuan
pesan yang dikirimkan oleh setiap orang tidak ada yang tertukar, tepat kearah nomor
itu ditujukan, tidak saling bertabrakan satu sama lainnya. Sesaat kemudian terdengar
bunyi handpone dari seorang gadis, ia mendapati pesan singkat tersebut, disana
bertuliskan, “maukah kau menjadi pacarku?” sang gadis tersenyum simpul. Ia sibuk
mengetik pesan singkat pula, dan mengirimkannya kepada pria yang ada di
hadapannya TRING TRING TRING, suara handphone berbunyi, dan dibukanya sms itu “ya,
aku mau jadi pacarmu” si pria tersenyum kegirangan dan menatap si gadis. Si gadispun
ikut tersenyum, merekapun tertawa bersama diiringi gemercik hujan dan secangkir
kopi hangat di kafe yang sepi itu.
Galih Maulana
Septian, 27 Juni 2013
Helai demi helai kain
terjatuh kelantai, sesosok pria bertubuh kurus tinggi memandangi tubuhnya di
cermin, lama, tak ada reaksi dalam dirinya. Resah, bimbang, gundah dan nafsu
menyatu, memberontak diseluruh penjuru otak, membuat sang pemilik tubuh ini tak
bisa lagi menjernihkan otaknya menjadi semakin buram, temaram. Pikiranya hanya
tertuju kepada selembar foto, foto orang yang ia kagumi namun lebih dari
sekedar kagum, ia ingin memilikinya, memeluknya, menyentuh wajahnya dan
mengecup bibirnya yang lembut.
“Aaarrrggghhh...!!!”
nafsunya semakin membuat akalnya tidak digunakan lagi, ia sadar ini salah, namun tak kuasa menahan gemuruh nafsu dalam jiwanya.
nafsunya semakin membuat akalnya tidak digunakan lagi, ia sadar ini salah, namun tak kuasa menahan gemuruh nafsu dalam jiwanya.
Sekali lagi, ia
menatapi tubuhnya di cermin, matanya sedikit berkaca, senyum, dengan tekad yang
kuat, ia berkata... “Aku Gay!!”.
Galih Maulana
Septian, 03 Februari 2012
Bau menyengat
menyelimuti seluruh sudut ruangan ini, anggrek, melati, ataukah kamboja? tapi
sangat busuk!, kubukakan mata, gelap, sangat, tak ada cahaya sedikit pun... di
mana ini? Tempat apa ini? Aku tak bisa bergerak, sangat sempit, aku tak bisa
mengingat kejadian ketika aku bisa berada di sini, yang kuingat kala itu,
ketika aku sedang mengendarai mobilku bersama seorang wanita, bukan, dia bukan
istriku, melainkan wanita yang kupungut di pinggir jalan, wanita itu sangat
sibuk menurun naikkan kepalanya, sedangkan aku hanya menyetir dan berniat
mencari sebuah penginapan. Akan tetapi sebelum sampai tujuan dari kaca spion
mobil, aku melihat sebuah mobil truk besar dan aku tak ingat lagi kejadian
selanjutnya.
Galih Maulana
Septian, 08 Desember 2011
Kamis, 08 Desember 2011
Diketik Oleh si....
galihmaulanas
jam..........
17.43
Label:
Anak-anak,
Dewasa,
Fiksi Mini,
Remaja,
Standar,
Tembus Pasaran
1 Curcolll
Seorang anak
bermain dengan badai, menungganginya dan berputar dengan senangnya, dari jauh
kulihat anak itu, penuh luka! namun ia tetap tersenyum, riang gembira,
seolah-olah sedang bermain bersama teman-teman sebayanya. Teringat dua hari yang
lalu aku melihat seorang anak yang mirip sekali dengannya, senyumnya sama
persis, menikmati batu yang
dilempari kepadanya oleh teman-temannya
sendiri, entah karena apa mereka tidak mau bermain dengannya, memang yang kulihat
tubuhnya penuh borok dan nanah. Kulihat sorot matanya seolah berterima kasih
karena sudah mau menghadiahi batu yang menjadi luka, sudah mau berkotor-kotoran
mengambil batu hanya untuk dirinya walau sakit rasanya. Dalam akhir ucapannya,
“Terima kasih, terima kasih, terima kasih... teman”.
Galih Maulana
Septian, 06 Desember 2011
Langganan:
Postingan (Atom)










