Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 September 2013

Nenek

Sosok keriput dan memiliki seribu cerita
Menenggelamkan kita ketika ia bercerita
Ada dimana kita terlupa
Betapa berharganya dia

Wahai sang tua dan tak kembali muda
Kisahmu menginspirasi banyak jiwa
Ketulusanmu memberikan arti kata
Dan kecil ini membuat kita lupa

Nenekku kuat bagai sang raja
Nenekku hilang ditelan usia
Nenekku bagai burung dara
Nenekku kini tinggal nama

Galih Maulana Septian, 13 September 2013

Minggu, 01 September 2013

Kisah

Hati itu rapuh tersakiti
Noda-noda yang menempel
Sakit terasa bila terdengar
Jeritan menyayat hati

Mereka tersenyum dalam tangisan
Dan kau
Menggunakan topeng kesedihanmu
Untuk membunuhku

Luka
Luka yang tercampur nanah
Ketika dunia membenciku
Hingga lengkap duka, lara

Saat kusadar
Ini kisah
Antara pilu dan
MUSNAH


Galih Maulana Septian, 26 Maret 2011

Jumat, 30 Agustus 2013

Puisi Untuk Anisa

Dalam cahaya lilin
Samar kutulis ini
Karna jeratan waktu
Dia menunggu...

Goyangan pena
Melenggak-lenggok
Dalam parutan waktu
Dia menunggu...

Tetap menunggu
Menunggu sebuah puisi
Kupikir hanya ini
Puisi untuk anisa

Galih Maulana Septian, 26 Maret 2011

Selasa, 20 Agustus 2013

Bodoh



Termangu manatap nasib

Sebuah gertak merobek dada

Busuk sang hati menanam impian

Jauh tak terlampau namun hanya angan



Menunggu impian membawa kekosongan

Hadir dan hanya kekosongan

Mangkuk kecil yang berisikan luka

Gerak yang hanya setitik

Galih Maulana Septian, 20 Agustus 2013

Rabu, 31 Juli 2013

Nyanyian Amarah


Aku selalu ingat
Hari ini berlalu begitu cepat
Aku sendiri sambil menatap langit gelap

Aku terjaga dalam dingin tak terbatas
Sebuah lagu yang ada dalam jiwaku
Dan selalu kucoba menulisnya terus dan terus
Dan kau selalu menyanyikannya berulang-ulang

Na... na... na...
Berulang-ulang
Berulang-ulang
Sampai kau muntahkan semua

Keliru merajaiku
Dusta menyesakkanku
Amarah merasukiku
Dalam dupa luka


Galih Maulana Septian, 27 Januari 2011

Kamis, 18 Juli 2013

Luka Hati

 

Meratapi malam yang kelam
Bergemuruh amarah di hati
Kegelapan menyayat mentari,
Seolah melarangnya kembali berseri.

Mahligai dosa semerbak di jiwa
Menyebar bagai zat melekat, pekat
Kini gemuruh semakin mendekat
Memuncah pecah pada secuil kertas

Gemuruh tak lagi bernyanyi
Namun tandanya menempel di hati
Mendarat tepat di jantung jiwa
Bagaikan noda yang tak bisa di cuci



Galih Maulana Septian, 18 juli 2013

Rabu, 17 Juli 2013

Sepenggal kisah tentang “Terram”ku Indonesia

1815,1883,1919
Si gagah yang perkasa
Memuntahkan amarahnya,
Memusnahkan 133.532 jiwa…

1977,1992,1994,2004,2006
Sang pemberi kehidupan, ramai…
Menumpahkan gelombangnya,
Mengambil 152.838 nyawa…

2000,2006
Si goyangan kematian, menari…
Menggoda semuanya, hingga
Merenggut 6.620 jiwa…

Terram…
Kapan kau hentikan amarahmu…
Tak kuasa aku melihatnya
Anak inang kehilangan keluarganya
Si kecil yang terhenti keceriaannya

Sesaat, memusnahkan impian mereka
Dan terjerumus dalam kekosongan,
Kekosongan yang menyayat hati mereka
Dan tak terobati oleh apapun

Terramku… kau menangis ?…
Membuatku sadar
Ternyata ini merupakan sebuah
Bencana…



Galih M.S., 09 Oktober 2011
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...