Tampilkan postingan dengan label Anak-anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anak-anak. Tampilkan semua postingan
Minggu, 13 Oktober 2013
Diketik Oleh si....
galihmaulanas
jam..........
14.05
Label:
Anak-anak,
Curhat,
Dewasa,
Remaja,
Standar
1 Curcolll
Dulu, gue kira cewe ini adalah orang
Papua, ternyata gue SALAH! Di orang negro! Hahahaha… (becanda) pertemanan yang
gue pikir hanya sebatas “teman” ternyata kini lebih, bukan sebagai seorang
kekasih melainkan keluarga, ya, lebih dari sahabat. Semua segala sesuatu yang
bersangkutan dengan gue dia tahu, dia menerima apa adanya. Orang yang sangat
supel, alay, gembrot (sama kaya gue), pecicilan, sexy teacher, ah apalah itu
namanya… gue bangga bisa kenal sama dia, orang sering banget nyemangatin gue
disaat down. Pertemanan kita mungkin bisa dibilang masih seumur jagung, tapi kita
tahu, lamanya pertemanan tidak menjamin kita akan bias sangat dekat. Sama halnya
dengan pernikahan. Menjadi sahabatnya adalah anugerah terindah yang gue miliki,
entah kalau bersama si cewe ini gue nyaman. Bisa curhat apapun, sampai yang
benar-benar rahasia sekalipun. Malahan ya
dikeluarga gue aja masih ada yang gue umpetin, tapi ngga sama dia. So, u my
best best friend forever. I love you besties.
Galih Maulana Septian, S.Pd. 13 Oktober 2013
Jumat, 13 September 2013
Diketik Oleh si....
galihmaulanas
jam..........
12.28
Label:
Anak-anak,
Dewasa,
Puisi,
Remaja,
Standar
0
Curcolll
Sosok keriput
dan memiliki seribu cerita
Menenggelamkan
kita ketika ia bercerita
Ada dimana
kita terlupa
Betapa
berharganya dia
Wahai
sang tua dan tak kembali muda
Kisahmu
menginspirasi banyak jiwa
Ketulusanmu
memberikan arti kata
Dan kecil
ini membuat kita lupa
Nenekku
kuat bagai sang raja
Nenekku
hilang ditelan usia
Nenekku
bagai burung dara
Nenekku
kini tinggal nama
Galih Maulana Septian, 13 September 2013
Minggu, 01 September 2013
Diketik Oleh si....
galihmaulanas
jam..........
02.39
Label:
Anak-anak,
Dewasa,
Puisi,
Remaja,
Standar
0
Curcolll
Hati itu rapuh tersakiti
Noda-noda yang menempel
Sakit terasa bila terdengar
Jeritan menyayat hati
Mereka tersenyum dalam tangisan
Dan kau
Menggunakan topeng kesedihanmu
Untuk membunuhku
Luka
Luka yang tercampur nanah
Ketika dunia membenciku
Hingga lengkap duka, lara
Saat kusadar
Ini kisah
Antara pilu dan
MUSNAH
Galih Maulana Septian, 26 Maret 2011
Jumat, 30 Agustus 2013
Diketik Oleh si....
galihmaulanas
jam..........
16.22
Label:
Anak-anak,
Dewasa,
Puisi,
Remaja,
Standar
0
Curcolll
Dalam cahaya lilin
Samar kutulis ini
Karna jeratan waktu
Dia menunggu...
Goyangan pena
Melenggak-lenggok
Dalam parutan waktu
Dia menunggu...
Tetap menunggu
Menunggu sebuah puisi
Kupikir hanya ini
Puisi untuk anisa
Galih Maulana Septian, 26 Maret 2011
Rabu, 28 Agustus 2013
Diketik Oleh si....
galihmaulanas
jam..........
10.24
Label:
Anak-anak,
Curhat,
Dewasa,
Remaja,
Standar
0
Curcolll
Setelah
gue semakin dewasa dan semakin gembrot, akhirnya gue lulus sekolah, gue lanjut
kuliah di kota kembang kempis, Bandung. Di sini bener-bener berbeda sob, liar,
kaya di jungle gitu, gue harus bertahan hidup sendiri di sini, nyari makan
sendiri, tidur sendiri, mandi sendiri, ee sendiri, pokoknya segalanya sendiri.
(ironis keempat). Pertama kali masuk kuliah gue merasa menjadi orang paling oon
di sini, jelas aja, dulu hidup gue serba kedesa-desaan dan sekarang harus
berlaga kekota-kotaan, di kuliah ini banyak hal baru yang gue dapet selain
materi perkuliahan, belajar di kampus beda jauh sama waktu kita di sekolah,
kalau di sekolah kita terpatok harus masuk jam tujuh pagi, kalau di perkuliahan
ini jadwalnya seenak mereka, kadang ngasih jadwal yang beneran tanggung banget
sob, coba aja lo banyangin misalnya kuliah dengan sembilan belas SKS, tapi
jadwalnya itu hanya hari senin dan hari sabtu doang, gila kan? Jadi untuk
hari-hari lainnya gue pake apa? untung gue orangnya gaul jadi gue pake tuh
jadwal kosong buat hibernasi beberapa hari, dan semakin bengkaklah gue, ada
juga jadwal yang gak kalah nanggung, contoh lagi misalnya sama kaya yang tadi
sembilan belas SKS, dan lo dapet jadwalnya satu-satu tiap hari, betapa kesalnya
itu sob, jadi gak ada waktu buat pulang kampung deh, awal-awal masuk
universitas adalah bencana besar bagi gue sob, tentunya dengan adanya ospek
ini, dan gak tanggung-tanggung ada tiga kali ospek, yang pertama ospek dari
Universitas itu bisa tiga hari, ada juga dari Fakultas dan Jurusan, gue tadi
bilang menderita karena gue orang yang paling mencolok di sana, gimana gak
mencolok badan gue sebesar kuda nil hamil gitu, ya hasilnya gue jadi bahan
siksaan kakak kelas, tapi sebenernya itu bukan masalah yang baru bagi gue
karena tiap kali masuk instansi apapun gue selalu menjadi bahan penyiksaan
(ironis kelima), untungnya gue tipikal orang yang supel, supel ya bukan super
karna gue bukan super hero dan bukan merk rokok, jadi banyak punya temen, mau
itu temen cewe, cowo, atau bencong sekalipun, gue disukai banyak orang karena
kesupelan gue ini, tapi kadang-kadang gue juga sensitif, agresif, karismatik,
rematik, gotik, dan taik (maaf). Kuliah gue sih standar-standar aja, gak begitu
bego, gak begitu pinter juga, ya cukuplah dapet nilai C, nah! Ngomong-ngomong
masalah nilai, ini juga beda jauh sama waktu gue SMA dulu, nilainya
diperkuliahan ini hanya ada lima, A, B, C, D, dan E, A untuk nilai 4, B untuk nilai 3, C untuk
nilai 2, D untuk nilai 1 dan E untuk nilai badan gue, (bulet maksudnya). Kalian
penasaran gak gue masuk Fakultas dan Jurusan apa? pasti dong!, gue masuk
Fakultas Keguruan dan Jurusan Caheum-Ledeng, bohong ding, gue ngambil jurusan
Bahasa Indonesia, jadi intinya gue mau jadi guru bahasa Indonesia, keren ya
gue? Kenapa gue ngambil keguruan, karena menurut nyokap gue buat nyari kerja
nantinya akan lebih gampang kalau jadi guru dan karena gue juga dulu terlalu
galau untuk memikirkan mau dilanjutin kemana, ya gue terima-terima aja dengan
lapangan dada. Back to Nature (itu game favorite gue!), kuliah di fakultas
keguruan ini ternyata tidak seenak yang gue pikirkan, karena gue kira di kuliah
manapun gue bisa memakai pakaian yang bebas dan sedikit nyeleneh, tapi di sini
gue gak bisa kaya gitu, gue harus berpakaian sesopan mungkin, ya iyalah gue kan
calon pendidik, masa calon pendidik yang ganteng kaya gue bajunya compang
camping, rambutnya gimbal kaya bulu domba kampung dan giginya kuning kaya yang
baca (bakar bukunya). Dosen-dosennyapun beraneka ragam, ada yang biasa kita
jaman SMA, ada juga yang baik banget, ada juga yang uang banget, ada juga yang
gaul banget ah pokoknya beraneka satwa ada di sana (ups).
Galih Maulana Septian, 28 Agustus 2013
Diketik Oleh si....
galihmaulanas
jam..........
10.15
Label:
Anak-anak,
Curhat,
Dewasa,
Remaja,
Standar
0
Curcolll
Setelah
sekian tahun terjebak di desa yang kecil ini akhirnya untuk kali pertama, gue
berani tembus ke yang lebih kota (sombong), gue lanjut sekolah ke SMA populer
di kota gue, ya karena gue sekolah di sana jadi menurut gue sekolahan gue ini memang
sekolahan populer, gue sekolah di jaman yang kali ini memang alay, karena
kealayannya itu gue juga jadi ikut-ikutan alay, kalau kalian pikir alay-alayan
gue itu dengan cara berfose menggunakan kamera HP di atas sih itu sudah biasa,
kuno, basi!, gue melakukan hal ekstrim lainnya sob, gue berfose dengan gaya sok
sok-an model gitu, gak pernah nyadar kalo selama ini gue itu gembrot, cebol dan
penuh jerawat (jijik), gue tetep pede berfose gaya model, ah itulah kealayan
gue dalam dunia perfotoan, ada lagi yang tak kalah menjijikannya dari gue, gue
selalu berlaga sok imut di depan guru gue, lo tahu sendirikan jaman dulu banyak
anak cewe yang berlaga sok imut di depan gurunya dengan ngomong menyerupai anak
kucing kejepit, nah! Itu juga gue lakuin sob, supaya dapat perhatian lebih dari
guru, gue ngomong dengan berlaga imut dan dengan suara kucing kejepit, karena
gue bukan cewe dan cowo juga setengah mateng, alhasil sang gurupun jijik
melihat tingkah gue yang seperti itu, dia menyuruh gue push up biar gue agak machoan
dikit, guru itu benar, gue harus rubah sikap gue yang berlenje-lenje ini,
akhirnya gue berubah (masih di jaman alay), gue berubah menjadi pria macho
dengan sok-sokan urakan dan sedikit agak liar, gue berani menjadi pria yang
benar-benar pria dengan selalu mengintipi anak gadis yang sedang ganti baju,
namun hal itu di mata guru gue masih salah, kenapa selalu salah? Apa yang harus
gue perbuat? Gue berlaga macho salah, centil kecewe-cewean juga salah? Ternyata
memang dasarnya gue oon jadilah seperti ini, untuk merubah sikap gue yang kali
ini terlihat agak berbahaya, gue bergabung dengan anak mesjid, konon katanya
anak mesjid banyak di sukai anak cewe, karena hingga saat itu gue masih jomblo,
gue mencoba untuk menjadi anak mesjid yang gak alay dan kalem, kebetulan saat
gue SMA, melejit film berbau islam yang menginsfirasi anak muda untuk menjadi
lebih baik, ‘Ayat-ayat Cinta’ itu film pedoman gue, si tokoh utama yang bernama
Fachri ini adalah tokoh yang benar-benar berbeda, dia tidak pernah sama sekali
bersentuhan dengan pria, dan tentunya hal itu disukai banyak anak gadis, gue
mencoba untuk menjadi si Fachri ini, gue rubah sikap gue, rubah penampilan gue,
agar terlihat sama seperti dia, tapi hal ini justri di benci oleh teman-teman
cewe gue, katanya gue terlalu lebay, masa di sentuh sedikit teriak, istighfar,
dan lari tunggang langgang. Ada satu kejadian saat gue merasa gue seperti
Fachri, gue sedang belajar di dalam kelas, tiba-tiba ada pelajaran Bahasa
Indonesia dan materi untuk saat itu tentang drama, sang guru menyuruh gue untuk
beradu ekting dengan salah seorang teman gue, cewe, jelas gue menolak, gue gak
mau harga diri gue terinjak-injak dengan memegangnya (lebay) sang guru itu
kehabisan akal dan diapun menyerah terhadap pendirian gue, dan hasilnya nilai
Bahasa Indonesia gue jeblog (ironis ketiga).
Di
jaman batu yang keren ini, tentunya gue gak terlalu naif juga untuk merasakan
cinta, gue pernah jadian sama satu cewe yang menurut gue kecenya luar biasa,
jarang-jangan kan ada cowo gembrot kaya gue dicintai sama cewe cantik kaya dia,
biar gue deskripsikan paras cantiknya itu ya, nama cewe gue ini Dina, dia
sekolah di sekolah yang berbeda sama gue, gue pacaran baru pertama kali,
sedangkan dia udah beberapa kali, mukanya oriental seperti susu kental manis
full cream, badannya six-pack kaya biola Spanyol, dan hobinya jalan-jalan,
karena dulu gue tiap kali sekolah suka bawa motor, jadi kadang kami pergi
bersama, jelas gue nganterin dia dulu ke sekolahnya, orangnya gak ribet, dia
gak kaya cewe kebanyakan yang ribetnya luar binasah, dia gak pernah mau minta anter
ke sana ke sini, mandiri abis deh, pokoknya dia sempurna banget bagi gue, cara
pacaran kami juga berbeda dari biasanya, hanya perlu jalan-jalan ke Mall dan
diem di tempat gamezone, nah di sanalah kami berpacaran, gue sibuk maen game
balap motor, dan dia asik dengan game joget-jogetan, setelah beres kita
langsung pulang dan selama perjalanan kita saling tanya menang berapa kali,
gitu aja sih pacaran gue, keren gak? (garing). Namun sob, ternyata dia
bukanalah jodoh gue, naas bagi gue ketika menjelang usia yang ke tujuh bulan,
cewe gue meninggal, sedih kan? Gue sih sedih banget kehilangan dia, cewe yang
benar-benar tipe gue banget, gak ada tuh cewe kece sekeren dia dan sama oonnya
dengan gue yang mampu buat hari-hari gue indah di gamezone, semenjak saat itulah
gue gak pernah main ke gamezone lagi, gue lebih memilih murung di kamar sambil
maen PS 2.
Galih Maulana Septian, 28 Agustus 2013
Diketik Oleh si....
galihmaulanas
jam..........
10.09
Label:
Anak-anak,
Curhat,
Dewasa,
Remaja,
Standar
0
Curcolll
SMP
atau SLTP gue mulai tumbuh rasa percaya diri yang tinggi, kenapa gue bilang
tinggi, karena ada yang lebih cebol dari gue, sebelumnya gue ini anak yang
paling pendek, tepatnya mendekati cebol. OMG! Udah gembot cebol pula (ilpil).
Jaman gue SMP gue masih belum terlalu kenal dengan yang namanya gadget, maklum
gue ini tinggal di desa yang belum terjamah manusia, manusia maksud gue di sini
buka manusia yang cinta lingkungan tapi manusia yang justru merusak lingkungan,
desa gue bener-bener adem ayem meski katanya kota gue, kota terpanas di
Indonesia (pasti mikir di mana). Hidup gue masih alami seperti orang-orang
kampung yang cupu-cupu (maaf) dan gue bangga dengan hal itu, kebiasaan gue sama
temen-temen sekomplotan gue (ketika itu belum mengenal istilah genk) yaitu
berenang di tanggul yang lumayan gede, main ke sawah buat ngurek –nyari belut-
dan main sepuasnya sampe bener-bener bau matahari. Pokoknya kehidupan gue di
kampung ini terkesan sederhana namun memiliki arti yang sangat dalam deh sob.
Diketik Oleh si....
galihmaulanas
jam..........
10.01
Label:
Anak-anak,
Curhat,
Dewasa,
Remaja,
Standar
0
Curcolll
Menginjak usia sekolah, gue sekolah kaya anak kebanyakan,
standar sih, gue langsung ke sekolah dasar tanpa melalui tahap nol nol-an kaya
jaman sekarang yang harus ribet melaluinya, kalian tahu kan maksud gue? ya! TK,
Taman Kanak-kanak, entah kenapa tiap kali gue denger nama TK gue suka geli,
‘Taman Kanak-kanak’, gue geli aja, katanya taman kanak-kanak tapi si
kanak-kanak ini belajarnya justru bukan di taman, tapi di kelas (ironis kedua),
untungnya gue gak ngalamin masa suram itu, karena orang tua gue lebih memilih
untuk langsung memasukan gue ke sekolah dasar. Namun ternyata kekelaman gue ada
juga di sini, ketika pertama kali masuk sekolah, gue ngerasa kalau guru gue
memberikan pelajaran yang menurut gue kurang masuk diakal, masa gue bawa buku tulis
dan niat buat nulis materi pelajaran tapi si guru gue ini nyuruh gue buat
pagar? Gila kan? (gue yang gila) karena waktu itu gue masih kecil dan gue gak
bisa melawan kehendak yang di atas (cicak), akhirnya gue turuti kemauan guru
itu, gue nulis pagar di buku yang masih suci itu.
Selasa, 20 Agustus 2013
Diketik Oleh si....
galihmaulanas
jam..........
02.36
Label:
Anak-anak,
Dewasa,
Puisi,
Remaja,
Standar
0
Curcolll
Termangu manatap
nasib
Sebuah gertak
merobek dada
Busuk sang hati
menanam impian
Jauh tak
terlampau namun hanya angan
Menunggu impian
membawa kekosongan
Hadir dan hanya
kekosongan
Mangkuk kecil
yang berisikan luka
Gerak yang hanya
setitik
Galih Maulana Septian, 20 Agustus 2013
Sabtu, 20 Juli 2013
Diketik Oleh si....
galihmaulanas
jam..........
03.28
Label:
Anak-anak,
Curhat,
Dewasa,
Remaja,
Standar
0
Curcolll
Helooow, gue
pengen cerita dikit nih tentang kegemaran terbesar gue (alay) ... waktu jaman
SMPan gitu lo tau ga game PS1 yang melegendaris?? Pasti tau dong, Ya! Bener banget
(siapa yang jawab?) Harvestmoon, gue sumpah demi apapun juga tergila-gila
banget ama game yang satu ini, gamenya simpel dan butuh kesabaran banget, awal
ceritanya sih gue ga tertarik sama sekali tuh ama game itu, malah sempet
ngehina gitu, apaan coba maen game yang ngurus”in kebun gitu, eh ternyata gue
malah kemakan omongan gue se-
ndiri guys, gue jadi MANIAK banget ama game ini, lo
bayangin aja tiap jam, menit, detik gue selalu maenin tuh game, malahan sampe
sekarang! Gila ga dewasa banget ya gue? Dan yang lebih parahnya lagi gue maen
game itu masih tetep yang PS1, karena menurut gue yg PS1 ini sungguh sangat
teramat sangat istimewa di hati gue, melebihi kekasih gue (gue masih jomblo!)
sebenernya sih bisa di bilang gue ga move on” karena ga bisa terlepas dari game
yang satu ini, tapi mau gimana lagi, emang gue tuh udah jatuh hati sama game
itu, BTW (Bau Tae Woy!) gue mau nyeritain sedikit karakter dan tindak tanduk
yang harus di lakukan dalam bermaen game ini, ada dua persi lo game ini, yang
pertama yang biasa pemerannya cowo kece dan yang kedua yang memang agak sulit
yaitu pemerannya cewe, lo bayangin lagi deh, kalo yang cowo kan ada bahasa
Indonesia dan Inggrisnya, nah kalo yang cewe aga ribet karena pake bahasa
Jepang, gue sih pernah belajar dikit bahasa itu tapi ya ga ada yang masuk tuh
ke otak gue, ada ding satu yang selalu menempel di otak gue, dan itu adalah
kalimat “konichi wa hajime mashite watashi wa Galih desu” gitu doang sih,
soalnya tuh kalimat dulu di pelajarin pertama banget dan gue harus hapal tiap
kali ngobrol atau ada guru bahasa Jepang itu, balik lagi ke topik, yang cowo
itu awalnya harus kita kasih nama, dan nama yang sering gue pake yaitu, Philip,
Orlando, Shane, Michael, George, Thomas, ah pokonya nama-nama bule gitu, kenapa
gue ga pake nama gue sendiri, lo pikir deh, warga” di sana aja namanya orang
luar semua kaya Greg, Pastor (Ga ada namanya) de el el. Lah masa gue namain
Galih? Hahahaa..
dan di cerita/game itu harus kawin gays, ini yang paling gue
suka dan cewe yang mau gue lamar yaitu Mary, cewe beracamata yang cupu (tapi
kalao udah lepas kaca matanya cantik bangetlah) sebenernya ada opsi lain sih,
kaya si Karen yang suka mabok, Popuri cewe banget yang doyang makan bunga, si
tomboy Ann anak pemilik penginapan, trus si Elli perawat deh. Ga tau ya kenapa
gue selalu pengen ama si Mary nikahnya, mungkin karena si Mary ini tipe gue
banget, hahahahahahahahhahahahahahahahhahahahahahahahahahha (kepanjangan) .
lanjut ke game harvestmoon yang cewe, di sini masih gue maenin dan belom tamat,
masih setaunan lagi sih, dan di sini sih aga susah ya buat yang cewe karena itu
tadi bahasanya yang pake bahasa hiragana atau kanji, yang cewe juga lebih susah
buat ngedeketin cowo-cowonya, (maho kayanya) solanya gue belom nemuni gameshark
buat yang cewe, isu-isunya sih nih game bisa hamil si tokohnya tapi gimana coba
kan dia pemeran utamanya, trus kalo hamil gawenya gimana? Kan dia harus ngurus
peternakan? Eh opsi cowo-cowonya juga sama kaya harvesmoon cowo ko, kaya si
Kai, Rick, Chlif, Grey, sama si Dokter, gitu, ya kebalikannya yang cowo lah, dan
ga ada bedanya banget ama game yang cowo dari segi apapun kecuali kasurnya yang
ganti jadi pink, dan bisa ikutan festival joget-joget, eh ada tambahan ding di
yang cewe ada satu festival lagi yaitu balapan kuda di musim gugur (Fall) oh ya
nama buat yang cewe juga ga gue kasih nama-nama orang indo kaya euis, neneng,
lilis, dedeh dan nama indo banget, gue kasih namanya ya sama kaya yang tadi
ala-ala Amerika gitu, kaya Megan, Renata, Grace dan sebagainya.... hm... segitu
aja deh yang gue ceritain kalo kepanjangan malah takut jadi cerpen nih curhatan
gue.... :>
Selasa, 16 Juli 2013
Diketik Oleh si....
galihmaulanas
jam..........
21.57
Label:
Anak-anak,
Dewasa,
Fiksi Mini,
Remaja,
Standar
0
Curcolll
Malam kelam. Sunyi. Diisi oleh tarian bintang yang menghiasi langit. Sang bintang terus menari dengan tidak lelahnya tampa pamrih, ia tak peduli dengan siapapun yang melihat, baginya hal ini merupakan sebuah kewajiban yang tak harus di bayarkan oleh apapun, sang awan melihat, ia bertanya. “Mengapa?” ia tersenyum tanpa menjawab dan melanjutkan tariannya.
Galih Maluana
Septian, 16 Juli 2013
Minggu, 14 Juli 2013
Diketik Oleh si....
galihmaulanas
jam..........
20.36
Label:
Anak-anak,
Dewasa,
Fiksi Mini,
Remaja,
Standar
0
Curcolll
Biji terjatuh dari pohonnya, kini ia berjalan sendiri, jauh mencari jalannya sendiri, ia sadar kini ia di campakan oleh sang pohon, pohon itu menemukan biji yang menurutnya lebih baik, biji tersebut kini mencoba sendiri, tumbuh sendiri dengan usahanya sendiri untuk menjadi pohon yang bermanfaat dan berusaha tidak melupakan kalau ia pernah tumbuh dari sang pohon walaupun ia telah di campakkan.
Galih Maulana
Septian, 14 Juli 2013
Diketik Oleh si....
galihmaulanas
jam..........
20.24
Label:
Anak-anak,
Dewasa,
Fiksi Mini,
Remaja,
Standar
0
Curcolll
Lima jari berdiri
tegak, di tangan itulah ia bersarang, memiliki funsinya masing-masing, namun
sang tangan dengan angkuhnya melupakan kegunaan jari-jari itu, tanpa sadar ia
memotong jari-jari itu karena merasa ia tidak memerlukan jari-jari itu. Setelah
para jari dipotong akhirnya ia sadar, bahwa sang tangan tidak bisa melakukan
apapun tanpa jari-jarinya.
Galih Maulana
Septian, 14 Juli 2013
Senin, 08 Juli 2013
Diketik Oleh si....
galihmaulanas
jam..........
05.31
Label:
Anak-anak,
Dewasa,
Fiksi Mini,
Remaja,
Standar
0
Curcolll
Dari langit segerombolan tetesan air turun ke bumi, menyerang
semua yang ada di sana, pohon, batu, rumah bahkan manusia pun tak luput dari
serangannya. Semua menghindari bukan karena takut, namun mereka lebih khawatir
akibat basah yang diakibatkannya. Dari jauh nampaklah rumah mungil dengan
jendela tipis, terlihat ada seorang ibu menyaksikan gerombolan air menyerang
bumi, sang ibupun ikut membantu gerombolan air dengan tetesan air mata yang
jatuh kelantai, ibu itu menangis bukan karena sengaja ikut membantu gerombolan
air itu namun sang ibu sedang menangis karena teringat kepada kedua putranya
yang dulu sering berani menantang air, dari kepalan tangannya sang ibu memegang
selembar foto, ya foto kedua anaknya yang meninggal setahun lalu.
Galih maulana
Septian, 08 Juli 2013
Senin, 01 Juli 2013
Diketik Oleh si....
galihmaulanas
jam..........
16.00
Label:
Anak-anak,
Dewasa,
Fiksi Mini,
Remaja,
Standar
0
Curcolll
Langkah kaki kupercepat, semakin cepat dan cepat, kali ini aku berlari mencari dimana letaknya cahaya itu berada, aku berada diterowongan yang tak berujung, mungkin, dalam pikirku. Terlalu panjang, hingga aku tak kuat untuk berlari, terdengar suara tawa lembut kian mendekat pekat, Karerina! Itu suaranya, kupercepat lariku, menghindari suara itu, namun seolah-olah suara itu mengejarku...
Kian lama kian menjauh dan menghilang, konon dalam terowongan ini bila kita mendengar suara tawa itu, maka kita harus berlari sekencang-kencangnya, entah apa yang akan terjadi bila kita terus mendengat tawa itu, tawa yang renyah namun membahayakan, kupercepat langkahku kembali, oh, ini benar-benar terowongan yang tak berujung! batinnya, ataukah aku sudah masuk kedalam perangkap Karerina?. Kali ini terowong yang mentertawakanku.
Galih Maulana
Septian, 06 Desember 2011
Kamis, 08 Desember 2011
Diketik Oleh si....
galihmaulanas
jam..........
17.43
Label:
Anak-anak,
Dewasa,
Fiksi Mini,
Remaja,
Standar,
Tembus Pasaran
1 Curcolll
Seorang anak
bermain dengan badai, menungganginya dan berputar dengan senangnya, dari jauh
kulihat anak itu, penuh luka! namun ia tetap tersenyum, riang gembira,
seolah-olah sedang bermain bersama teman-teman sebayanya. Teringat dua hari yang
lalu aku melihat seorang anak yang mirip sekali dengannya, senyumnya sama
persis, menikmati batu yang
dilempari kepadanya oleh teman-temannya
sendiri, entah karena apa mereka tidak mau bermain dengannya, memang yang kulihat
tubuhnya penuh borok dan nanah. Kulihat sorot matanya seolah berterima kasih
karena sudah mau menghadiahi batu yang menjadi luka, sudah mau berkotor-kotoran
mengambil batu hanya untuk dirinya walau sakit rasanya. Dalam akhir ucapannya,
“Terima kasih, terima kasih, terima kasih... teman”.
Galih Maulana
Septian, 06 Desember 2011
Langganan:
Postingan (Atom)
















