Minggu, 01 September 2013
Diketik Oleh si....
galihmaulanas
jam..........
02.39
Label:
Anak-anak,
Dewasa,
Puisi,
Remaja,
Standar
0
Curcolll
Hati itu rapuh tersakiti
Noda-noda yang menempel
Sakit terasa bila terdengar
Jeritan menyayat hati
Mereka tersenyum dalam tangisan
Dan kau
Menggunakan topeng kesedihanmu
Untuk membunuhku
Luka
Luka yang tercampur nanah
Ketika dunia membenciku
Hingga lengkap duka, lara
Saat kusadar
Ini kisah
Antara pilu dan
MUSNAH
Galih Maulana Septian, 26 Maret 2011
Jumat, 30 Agustus 2013
Diketik Oleh si....
galihmaulanas
jam..........
16.22
Label:
Anak-anak,
Dewasa,
Puisi,
Remaja,
Standar
0
Curcolll
Dalam cahaya lilin
Samar kutulis ini
Karna jeratan waktu
Dia menunggu...
Goyangan pena
Melenggak-lenggok
Dalam parutan waktu
Dia menunggu...
Tetap menunggu
Menunggu sebuah puisi
Kupikir hanya ini
Puisi untuk anisa
Galih Maulana Septian, 26 Maret 2011
Rabu, 28 Agustus 2013
Diketik Oleh si....
galihmaulanas
jam..........
10.24
Label:
Anak-anak,
Curhat,
Dewasa,
Remaja,
Standar
0
Curcolll
Setelah
gue semakin dewasa dan semakin gembrot, akhirnya gue lulus sekolah, gue lanjut
kuliah di kota kembang kempis, Bandung. Di sini bener-bener berbeda sob, liar,
kaya di jungle gitu, gue harus bertahan hidup sendiri di sini, nyari makan
sendiri, tidur sendiri, mandi sendiri, ee sendiri, pokoknya segalanya sendiri.
(ironis keempat). Pertama kali masuk kuliah gue merasa menjadi orang paling oon
di sini, jelas aja, dulu hidup gue serba kedesa-desaan dan sekarang harus
berlaga kekota-kotaan, di kuliah ini banyak hal baru yang gue dapet selain
materi perkuliahan, belajar di kampus beda jauh sama waktu kita di sekolah,
kalau di sekolah kita terpatok harus masuk jam tujuh pagi, kalau di perkuliahan
ini jadwalnya seenak mereka, kadang ngasih jadwal yang beneran tanggung banget
sob, coba aja lo banyangin misalnya kuliah dengan sembilan belas SKS, tapi
jadwalnya itu hanya hari senin dan hari sabtu doang, gila kan? Jadi untuk
hari-hari lainnya gue pake apa? untung gue orangnya gaul jadi gue pake tuh
jadwal kosong buat hibernasi beberapa hari, dan semakin bengkaklah gue, ada
juga jadwal yang gak kalah nanggung, contoh lagi misalnya sama kaya yang tadi
sembilan belas SKS, dan lo dapet jadwalnya satu-satu tiap hari, betapa kesalnya
itu sob, jadi gak ada waktu buat pulang kampung deh, awal-awal masuk
universitas adalah bencana besar bagi gue sob, tentunya dengan adanya ospek
ini, dan gak tanggung-tanggung ada tiga kali ospek, yang pertama ospek dari
Universitas itu bisa tiga hari, ada juga dari Fakultas dan Jurusan, gue tadi
bilang menderita karena gue orang yang paling mencolok di sana, gimana gak
mencolok badan gue sebesar kuda nil hamil gitu, ya hasilnya gue jadi bahan
siksaan kakak kelas, tapi sebenernya itu bukan masalah yang baru bagi gue
karena tiap kali masuk instansi apapun gue selalu menjadi bahan penyiksaan
(ironis kelima), untungnya gue tipikal orang yang supel, supel ya bukan super
karna gue bukan super hero dan bukan merk rokok, jadi banyak punya temen, mau
itu temen cewe, cowo, atau bencong sekalipun, gue disukai banyak orang karena
kesupelan gue ini, tapi kadang-kadang gue juga sensitif, agresif, karismatik,
rematik, gotik, dan taik (maaf). Kuliah gue sih standar-standar aja, gak begitu
bego, gak begitu pinter juga, ya cukuplah dapet nilai C, nah! Ngomong-ngomong
masalah nilai, ini juga beda jauh sama waktu gue SMA dulu, nilainya
diperkuliahan ini hanya ada lima, A, B, C, D, dan E, A untuk nilai 4, B untuk nilai 3, C untuk
nilai 2, D untuk nilai 1 dan E untuk nilai badan gue, (bulet maksudnya). Kalian
penasaran gak gue masuk Fakultas dan Jurusan apa? pasti dong!, gue masuk
Fakultas Keguruan dan Jurusan Caheum-Ledeng, bohong ding, gue ngambil jurusan
Bahasa Indonesia, jadi intinya gue mau jadi guru bahasa Indonesia, keren ya
gue? Kenapa gue ngambil keguruan, karena menurut nyokap gue buat nyari kerja
nantinya akan lebih gampang kalau jadi guru dan karena gue juga dulu terlalu
galau untuk memikirkan mau dilanjutin kemana, ya gue terima-terima aja dengan
lapangan dada. Back to Nature (itu game favorite gue!), kuliah di fakultas
keguruan ini ternyata tidak seenak yang gue pikirkan, karena gue kira di kuliah
manapun gue bisa memakai pakaian yang bebas dan sedikit nyeleneh, tapi di sini
gue gak bisa kaya gitu, gue harus berpakaian sesopan mungkin, ya iyalah gue kan
calon pendidik, masa calon pendidik yang ganteng kaya gue bajunya compang
camping, rambutnya gimbal kaya bulu domba kampung dan giginya kuning kaya yang
baca (bakar bukunya). Dosen-dosennyapun beraneka ragam, ada yang biasa kita
jaman SMA, ada juga yang baik banget, ada juga yang uang banget, ada juga yang
gaul banget ah pokoknya beraneka satwa ada di sana (ups).
Galih Maulana Septian, 28 Agustus 2013
Diketik Oleh si....
galihmaulanas
jam..........
10.15
Label:
Anak-anak,
Curhat,
Dewasa,
Remaja,
Standar
0
Curcolll
Setelah
sekian tahun terjebak di desa yang kecil ini akhirnya untuk kali pertama, gue
berani tembus ke yang lebih kota (sombong), gue lanjut sekolah ke SMA populer
di kota gue, ya karena gue sekolah di sana jadi menurut gue sekolahan gue ini memang
sekolahan populer, gue sekolah di jaman yang kali ini memang alay, karena
kealayannya itu gue juga jadi ikut-ikutan alay, kalau kalian pikir alay-alayan
gue itu dengan cara berfose menggunakan kamera HP di atas sih itu sudah biasa,
kuno, basi!, gue melakukan hal ekstrim lainnya sob, gue berfose dengan gaya sok
sok-an model gitu, gak pernah nyadar kalo selama ini gue itu gembrot, cebol dan
penuh jerawat (jijik), gue tetep pede berfose gaya model, ah itulah kealayan
gue dalam dunia perfotoan, ada lagi yang tak kalah menjijikannya dari gue, gue
selalu berlaga sok imut di depan guru gue, lo tahu sendirikan jaman dulu banyak
anak cewe yang berlaga sok imut di depan gurunya dengan ngomong menyerupai anak
kucing kejepit, nah! Itu juga gue lakuin sob, supaya dapat perhatian lebih dari
guru, gue ngomong dengan berlaga imut dan dengan suara kucing kejepit, karena
gue bukan cewe dan cowo juga setengah mateng, alhasil sang gurupun jijik
melihat tingkah gue yang seperti itu, dia menyuruh gue push up biar gue agak machoan
dikit, guru itu benar, gue harus rubah sikap gue yang berlenje-lenje ini,
akhirnya gue berubah (masih di jaman alay), gue berubah menjadi pria macho
dengan sok-sokan urakan dan sedikit agak liar, gue berani menjadi pria yang
benar-benar pria dengan selalu mengintipi anak gadis yang sedang ganti baju,
namun hal itu di mata guru gue masih salah, kenapa selalu salah? Apa yang harus
gue perbuat? Gue berlaga macho salah, centil kecewe-cewean juga salah? Ternyata
memang dasarnya gue oon jadilah seperti ini, untuk merubah sikap gue yang kali
ini terlihat agak berbahaya, gue bergabung dengan anak mesjid, konon katanya
anak mesjid banyak di sukai anak cewe, karena hingga saat itu gue masih jomblo,
gue mencoba untuk menjadi anak mesjid yang gak alay dan kalem, kebetulan saat
gue SMA, melejit film berbau islam yang menginsfirasi anak muda untuk menjadi
lebih baik, ‘Ayat-ayat Cinta’ itu film pedoman gue, si tokoh utama yang bernama
Fachri ini adalah tokoh yang benar-benar berbeda, dia tidak pernah sama sekali
bersentuhan dengan pria, dan tentunya hal itu disukai banyak anak gadis, gue
mencoba untuk menjadi si Fachri ini, gue rubah sikap gue, rubah penampilan gue,
agar terlihat sama seperti dia, tapi hal ini justri di benci oleh teman-teman
cewe gue, katanya gue terlalu lebay, masa di sentuh sedikit teriak, istighfar,
dan lari tunggang langgang. Ada satu kejadian saat gue merasa gue seperti
Fachri, gue sedang belajar di dalam kelas, tiba-tiba ada pelajaran Bahasa
Indonesia dan materi untuk saat itu tentang drama, sang guru menyuruh gue untuk
beradu ekting dengan salah seorang teman gue, cewe, jelas gue menolak, gue gak
mau harga diri gue terinjak-injak dengan memegangnya (lebay) sang guru itu
kehabisan akal dan diapun menyerah terhadap pendirian gue, dan hasilnya nilai
Bahasa Indonesia gue jeblog (ironis ketiga).
Di
jaman batu yang keren ini, tentunya gue gak terlalu naif juga untuk merasakan
cinta, gue pernah jadian sama satu cewe yang menurut gue kecenya luar biasa,
jarang-jangan kan ada cowo gembrot kaya gue dicintai sama cewe cantik kaya dia,
biar gue deskripsikan paras cantiknya itu ya, nama cewe gue ini Dina, dia
sekolah di sekolah yang berbeda sama gue, gue pacaran baru pertama kali,
sedangkan dia udah beberapa kali, mukanya oriental seperti susu kental manis
full cream, badannya six-pack kaya biola Spanyol, dan hobinya jalan-jalan,
karena dulu gue tiap kali sekolah suka bawa motor, jadi kadang kami pergi
bersama, jelas gue nganterin dia dulu ke sekolahnya, orangnya gak ribet, dia
gak kaya cewe kebanyakan yang ribetnya luar binasah, dia gak pernah mau minta anter
ke sana ke sini, mandiri abis deh, pokoknya dia sempurna banget bagi gue, cara
pacaran kami juga berbeda dari biasanya, hanya perlu jalan-jalan ke Mall dan
diem di tempat gamezone, nah di sanalah kami berpacaran, gue sibuk maen game
balap motor, dan dia asik dengan game joget-jogetan, setelah beres kita
langsung pulang dan selama perjalanan kita saling tanya menang berapa kali,
gitu aja sih pacaran gue, keren gak? (garing). Namun sob, ternyata dia
bukanalah jodoh gue, naas bagi gue ketika menjelang usia yang ke tujuh bulan,
cewe gue meninggal, sedih kan? Gue sih sedih banget kehilangan dia, cewe yang
benar-benar tipe gue banget, gak ada tuh cewe kece sekeren dia dan sama oonnya
dengan gue yang mampu buat hari-hari gue indah di gamezone, semenjak saat itulah
gue gak pernah main ke gamezone lagi, gue lebih memilih murung di kamar sambil
maen PS 2.
Galih Maulana Septian, 28 Agustus 2013
Diketik Oleh si....
galihmaulanas
jam..........
10.09
Label:
Anak-anak,
Curhat,
Dewasa,
Remaja,
Standar
0
Curcolll
SMP
atau SLTP gue mulai tumbuh rasa percaya diri yang tinggi, kenapa gue bilang
tinggi, karena ada yang lebih cebol dari gue, sebelumnya gue ini anak yang
paling pendek, tepatnya mendekati cebol. OMG! Udah gembot cebol pula (ilpil).
Jaman gue SMP gue masih belum terlalu kenal dengan yang namanya gadget, maklum
gue ini tinggal di desa yang belum terjamah manusia, manusia maksud gue di sini
buka manusia yang cinta lingkungan tapi manusia yang justru merusak lingkungan,
desa gue bener-bener adem ayem meski katanya kota gue, kota terpanas di
Indonesia (pasti mikir di mana). Hidup gue masih alami seperti orang-orang
kampung yang cupu-cupu (maaf) dan gue bangga dengan hal itu, kebiasaan gue sama
temen-temen sekomplotan gue (ketika itu belum mengenal istilah genk) yaitu
berenang di tanggul yang lumayan gede, main ke sawah buat ngurek –nyari belut-
dan main sepuasnya sampe bener-bener bau matahari. Pokoknya kehidupan gue di
kampung ini terkesan sederhana namun memiliki arti yang sangat dalam deh sob.
Langganan:
Postingan (Atom)





