Minggu, 01 September 2013

Kisah

Hati itu rapuh tersakiti
Noda-noda yang menempel
Sakit terasa bila terdengar
Jeritan menyayat hati

Mereka tersenyum dalam tangisan
Dan kau
Menggunakan topeng kesedihanmu
Untuk membunuhku

Luka
Luka yang tercampur nanah
Ketika dunia membenciku
Hingga lengkap duka, lara

Saat kusadar
Ini kisah
Antara pilu dan
MUSNAH


Galih Maulana Septian, 26 Maret 2011

Jumat, 30 Agustus 2013

Puisi Untuk Anisa

Dalam cahaya lilin
Samar kutulis ini
Karna jeratan waktu
Dia menunggu...

Goyangan pena
Melenggak-lenggok
Dalam parutan waktu
Dia menunggu...

Tetap menunggu
Menunggu sebuah puisi
Kupikir hanya ini
Puisi untuk anisa

Galih Maulana Septian, 26 Maret 2011

Rabu, 28 Agustus 2013

Story Galau FINAL

Setelah gue semakin dewasa dan semakin gembrot, akhirnya gue lulus sekolah, gue lanjut kuliah di kota kembang kempis, Bandung. Di sini bener-bener berbeda sob, liar, kaya di jungle gitu, gue harus bertahan hidup sendiri di sini, nyari makan sendiri, tidur sendiri, mandi sendiri, ee sendiri, pokoknya segalanya sendiri. (ironis keempat). Pertama kali masuk kuliah gue merasa menjadi orang paling oon di sini, jelas aja, dulu hidup gue serba kedesa-desaan dan sekarang harus berlaga kekota-kotaan, di kuliah ini banyak hal baru yang gue dapet selain materi perkuliahan, belajar di kampus beda jauh sama waktu kita di sekolah, kalau di sekolah kita terpatok harus masuk jam tujuh pagi, kalau di perkuliahan ini jadwalnya seenak mereka, kadang ngasih jadwal yang beneran tanggung banget sob, coba aja lo banyangin misalnya kuliah dengan sembilan belas SKS, tapi jadwalnya itu hanya hari senin dan hari sabtu doang, gila kan? Jadi untuk hari-hari lainnya gue pake apa? untung gue orangnya gaul jadi gue pake tuh jadwal kosong buat hibernasi beberapa hari, dan semakin bengkaklah gue, ada juga jadwal yang gak kalah nanggung, contoh lagi misalnya sama kaya yang tadi sembilan belas SKS, dan lo dapet jadwalnya satu-satu tiap hari, betapa kesalnya itu sob, jadi gak ada waktu buat pulang kampung deh, awal-awal masuk universitas adalah bencana besar bagi gue sob, tentunya dengan adanya ospek ini, dan gak tanggung-tanggung ada tiga kali ospek, yang pertama ospek dari Universitas itu bisa tiga hari, ada juga dari Fakultas dan Jurusan, gue tadi bilang menderita karena gue orang yang paling mencolok di sana, gimana gak mencolok badan gue sebesar kuda nil hamil gitu, ya hasilnya gue jadi bahan siksaan kakak kelas, tapi sebenernya itu bukan masalah yang baru bagi gue karena tiap kali masuk instansi apapun gue selalu menjadi bahan penyiksaan (ironis kelima), untungnya gue tipikal orang yang supel, supel ya bukan super karna gue bukan super hero dan bukan merk rokok, jadi banyak punya temen, mau itu temen cewe, cowo, atau bencong sekalipun, gue disukai banyak orang karena kesupelan gue ini, tapi kadang-kadang gue juga sensitif, agresif, karismatik, rematik, gotik, dan taik (maaf). Kuliah gue sih standar-standar aja, gak begitu bego, gak begitu pinter juga, ya cukuplah dapet nilai C, nah! Ngomong-ngomong masalah nilai, ini juga beda jauh sama waktu gue SMA dulu, nilainya diperkuliahan ini hanya ada lima, A, B, C, D, dan E,  A untuk nilai 4, B untuk nilai 3, C untuk nilai 2, D untuk nilai 1 dan E untuk nilai badan gue, (bulet maksudnya). Kalian penasaran gak gue masuk Fakultas dan Jurusan apa? pasti dong!, gue masuk Fakultas Keguruan dan Jurusan Caheum-Ledeng, bohong ding, gue ngambil jurusan Bahasa Indonesia, jadi intinya gue mau jadi guru bahasa Indonesia, keren ya gue? Kenapa gue ngambil keguruan, karena menurut nyokap gue buat nyari kerja nantinya akan lebih gampang kalau jadi guru dan karena gue juga dulu terlalu galau untuk memikirkan mau dilanjutin kemana, ya gue terima-terima aja dengan lapangan dada. Back to Nature (itu game favorite gue!), kuliah di fakultas keguruan ini ternyata tidak seenak yang gue pikirkan, karena gue kira di kuliah manapun gue bisa memakai pakaian yang bebas dan sedikit nyeleneh, tapi di sini gue gak bisa kaya gitu, gue harus berpakaian sesopan mungkin, ya iyalah gue kan calon pendidik, masa calon pendidik yang ganteng kaya gue bajunya compang camping, rambutnya gimbal kaya bulu domba kampung dan giginya kuning kaya yang baca (bakar bukunya). Dosen-dosennyapun beraneka ragam, ada yang biasa kita jaman SMA, ada juga yang baik banget, ada juga yang uang banget, ada juga yang gaul banget ah pokoknya beraneka satwa ada di sana (ups).

Galih Maulana Septian, 28 Agustus 2013


Story Galau Part 4

Setelah sekian tahun terjebak di desa yang kecil ini akhirnya untuk kali pertama, gue berani tembus ke yang lebih kota (sombong), gue lanjut sekolah ke SMA populer di kota gue, ya karena gue sekolah di sana jadi menurut gue sekolahan gue ini memang sekolahan populer, gue sekolah di jaman yang kali ini memang alay, karena kealayannya itu gue juga jadi ikut-ikutan alay, kalau kalian pikir alay-alayan gue itu dengan cara berfose menggunakan kamera HP di atas sih itu sudah biasa, kuno, basi!, gue melakukan hal ekstrim lainnya sob, gue berfose dengan gaya sok sok-an model gitu, gak pernah nyadar kalo selama ini gue itu gembrot, cebol dan penuh jerawat (jijik), gue tetep pede berfose gaya model, ah itulah kealayan gue dalam dunia perfotoan, ada lagi yang tak kalah menjijikannya dari gue, gue selalu berlaga sok imut di depan guru gue, lo tahu sendirikan jaman dulu banyak anak cewe yang berlaga sok imut di depan gurunya dengan ngomong menyerupai anak kucing kejepit, nah! Itu juga gue lakuin sob, supaya dapat perhatian lebih dari guru, gue ngomong dengan berlaga imut dan dengan suara kucing kejepit, karena gue bukan cewe dan cowo juga setengah mateng, alhasil sang gurupun jijik melihat tingkah gue yang seperti itu, dia menyuruh gue push up biar gue agak machoan dikit, guru itu benar, gue harus rubah sikap gue yang berlenje-lenje ini, akhirnya gue berubah (masih di jaman alay), gue berubah menjadi pria macho dengan sok-sokan urakan dan sedikit agak liar, gue berani menjadi pria yang benar-benar pria dengan selalu mengintipi anak gadis yang sedang ganti baju, namun hal itu di mata guru gue masih salah, kenapa selalu salah? Apa yang harus gue perbuat? Gue berlaga macho salah, centil kecewe-cewean juga salah? Ternyata memang dasarnya gue oon jadilah seperti ini, untuk merubah sikap gue yang kali ini terlihat agak berbahaya, gue bergabung dengan anak mesjid, konon katanya anak mesjid banyak di sukai anak cewe, karena hingga saat itu gue masih jomblo, gue mencoba untuk menjadi anak mesjid yang gak alay dan kalem, kebetulan saat gue SMA, melejit film berbau islam yang menginsfirasi anak muda untuk menjadi lebih baik, ‘Ayat-ayat Cinta’ itu film pedoman gue, si tokoh utama yang bernama Fachri ini adalah tokoh yang benar-benar berbeda, dia tidak pernah sama sekali bersentuhan dengan pria, dan tentunya hal itu disukai banyak anak gadis, gue mencoba untuk menjadi si Fachri ini, gue rubah sikap gue, rubah penampilan gue, agar terlihat sama seperti dia, tapi hal ini justri di benci oleh teman-teman cewe gue, katanya gue terlalu lebay, masa di sentuh sedikit teriak, istighfar, dan lari tunggang langgang. Ada satu kejadian saat gue merasa gue seperti Fachri, gue sedang belajar di dalam kelas, tiba-tiba ada pelajaran Bahasa Indonesia dan materi untuk saat itu tentang drama, sang guru menyuruh gue untuk beradu ekting dengan salah seorang teman gue, cewe, jelas gue menolak, gue gak mau harga diri gue terinjak-injak dengan memegangnya (lebay) sang guru itu kehabisan akal dan diapun menyerah terhadap pendirian gue, dan hasilnya nilai Bahasa Indonesia gue jeblog (ironis ketiga).
Di jaman batu yang keren ini, tentunya gue gak terlalu naif juga untuk merasakan cinta, gue pernah jadian sama satu cewe yang menurut gue kecenya luar biasa, jarang-jangan kan ada cowo gembrot kaya gue dicintai sama cewe cantik kaya dia, biar gue deskripsikan paras cantiknya itu ya, nama cewe gue ini Dina, dia sekolah di sekolah yang berbeda sama gue, gue pacaran baru pertama kali, sedangkan dia udah beberapa kali, mukanya oriental seperti susu kental manis full cream, badannya six-pack kaya biola Spanyol, dan hobinya jalan-jalan, karena dulu gue tiap kali sekolah suka bawa motor, jadi kadang kami pergi bersama, jelas gue nganterin dia dulu ke sekolahnya, orangnya gak ribet, dia gak kaya cewe kebanyakan yang ribetnya luar binasah, dia gak pernah mau minta anter ke sana ke sini, mandiri abis deh, pokoknya dia sempurna banget bagi gue, cara pacaran kami juga berbeda dari biasanya, hanya perlu jalan-jalan ke Mall dan diem di tempat gamezone, nah di sanalah kami berpacaran, gue sibuk maen game balap motor, dan dia asik dengan game joget-jogetan, setelah beres kita langsung pulang dan selama perjalanan kita saling tanya menang berapa kali, gitu aja sih pacaran gue, keren gak? (garing). Namun sob, ternyata dia bukanalah jodoh gue, naas bagi gue ketika menjelang usia yang ke tujuh bulan, cewe gue meninggal, sedih kan? Gue sih sedih banget kehilangan dia, cewe yang benar-benar tipe gue banget, gak ada tuh cewe kece sekeren dia dan sama oonnya dengan gue yang mampu buat hari-hari gue indah di gamezone, semenjak saat itulah gue gak pernah main ke gamezone lagi, gue lebih memilih murung di kamar sambil maen PS 2.



Galih Maulana Septian, 28 Agustus 2013

Story Galau Part 3

SMP atau SLTP gue mulai tumbuh rasa percaya diri yang tinggi, kenapa gue bilang tinggi, karena ada yang lebih cebol dari gue, sebelumnya gue ini anak yang paling pendek, tepatnya mendekati cebol. OMG! Udah gembot cebol pula (ilpil). Jaman gue SMP gue masih belum terlalu kenal dengan yang namanya gadget, maklum gue ini tinggal di desa yang belum terjamah manusia, manusia maksud gue di sini buka manusia yang cinta lingkungan tapi manusia yang justru merusak lingkungan, desa gue bener-bener adem ayem meski katanya kota gue, kota terpanas di Indonesia (pasti mikir di mana). Hidup gue masih alami seperti orang-orang kampung yang cupu-cupu (maaf) dan gue bangga dengan hal itu, kebiasaan gue sama temen-temen sekomplotan gue (ketika itu belum mengenal istilah genk) yaitu berenang di tanggul yang lumayan gede, main ke sawah buat ngurek –nyari belut- dan main sepuasnya sampe bener-bener bau matahari. Pokoknya kehidupan gue di kampung ini terkesan sederhana namun memiliki arti yang sangat dalam deh sob.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...